05/12/19

Sinopsis Naskah Novel

RASIAN

     Bandaro berasian pusat pemerintahan Negeri Rasian berada dalam kegelapan. Negeri Bintang Kuning, Negeri Salju, dan Negeri Belang berkomplot ingin menguasai Negeri Rasian. Bandaro, di bawah kendali operasi Departemen Istimewa, berhasil menghancurkan sebuah misil balistik interkontinental musuh di mesosfer sebelum misil mencapai Ibukota Negeri Rasian. Pertempuran antara skuadron jet tempur Negeri Lain dan jet-jet tempur musuh mengubah Ibu Kota Negeri Rasian menjadi zona pertempuran. Rasiannya itu dialaminya ketika dirinya sedang dalam perjalanan pulang dari Kota Dua Gunung menuju ke Kota Tepi Laut dengan menumpang taksi.
     Ketika masih kecil, Bandaro nan lahir sungsang, mengalami rasian membantu Sultan Negeri Rasian untuk membuka brankas berisikan catatan sejarah, peta wilayah, dan peta harta emas Negeri Rasian. Dia berhasil membuka brankas disaksikan oleh Sultan dan Permaisuri Negeri Rasian, Datuk Penasihat, Datuk Penerawang, Datuk Bendahara, Datuk Setia Usaha, Panglima, dan juga beberapa Hulubalang Negeri Rasian. Bandaro diberi hadiah sebatang pena emas oleh Sultan Negeri Rasian karena telah membuka brankas.
       Sebelas tahun kemudian, Bandaro dan empat orang kawannya dalam perjalanan mendaki Gunung Rimba Larangan. Dia dan Otta tertinggal dalam pendakian. Mereka memberanikan diri agar sampai ke cadas dan puncak gunung. Mereka pun berhasil tiba di puncak gunung setelah mengikuti jejak-jejak di jalur pendakian. Ketika tertidur di cadas, dia berasian bertemu dengan Pak Gala di Negeri Rasian, tetapi negeri itu tidak lagi dipimpin oleh Sultan. Dia melihat ada massa yang akan demonstrasi besar-besaran di depan Istana Presiden Negeri Rasian. Pak Gala memberitahunya bahwa ideologi politik yang ditanamkan oleh para kolonialis berhasil membuat rakyat Negeri Rasian bercerai-berai. Rasiannya terhenti karena Orin membangunkannya dari tidur.
       Pada suatu petang, Bandaro dan Otta berenang di laut. Bandaro nyaris dibawa malaikat maut. Dia terseret arus bawah laut. Malamnya, dia berasian ikut Pak Arung dari Grup Anjar Kuda Laut untuk menyabotase kapal selam musuh yang membawa misil berhulu ledak nuklir, dan menyalakan pemancar sinyal dari puncak bukit. Pak Arung gugur dalam tugas ketika berupaya membawa pemancar sinyal ke puncak bukit. Kapal selam musuh berhasil disabotase olehnya.
   Suatu hari, sepulangnya dari studio musik, sesudah kuliah di kampus, dia berasian membacakan sebuah puisi bagi prajurit-prajurit Divisi Infanteri Berani Mati yang akan dikirim ke front. Dia terjaga ketika angin limbubu mengguguh dinding rumah indekosnya
    Dia bertemu dengan Jentar dan Ridi. Keduanya pakar di bidang teknologi jaringan dan invensi teknologi. Dia berhasil menciptakan beberapa invensi.
     Bandaro dibawa Grup Kartika ke Negeri Rasian atas perintah Pak Gala karena purwarupa-purwarupa invensinya. Negeri Rasian membutuhkan bantuan Bandaro, dan invensi-invensinya untuk mencegah terjadi perang total menggunakan bom nuklir. Purwarupa Kataka, Telempuskop, Portal Fotograviton, dan Penyerap beserta jurnal invensinya diserahkan olehnya kepada Pak Gala. Ketika berada di bungker rahasia di Negeri Rasian, dia menuliskan dua buah sajak untuk prajurit-prajurit nan setia dan juga untuk pasukan berani mati.
   Grup Genta Satu mengawal Bandaro ketika dia membantu Profesor-Profesor Negeri Rasian yang akan membuat Absorber di laboratorium rahasia. Portal Fotograviton yang menjadi sarana perpindahan dari Negeri Lain ke Negeri Rasian, dari alam sadar ke alam bawah sadar, membuat Bandaro kian kerap didatangi oleh rasian-rasian. Rasian bertemu Presiden Pertama Negeri Rasian, Presiden Kedua Negeri Rasian, hingga Presiden Ketujuh Negeri Rasian.
   Bandaro memutuskan untuk mencatat rasian-rasian dan siaran anasir-anasir kehidupan yang ada didalamnya menjadi narasi. Setiap rasian di alam bawah sadar, seperti juga setiap kejadian yang dialami oleh setiap manusia di alam sadarnya, memiliki hikmah.


Naskah novel ini adalah naskah novel perdana yang dibuat oleh diriku. Sinopsis naskah novel ini diunggah ke blog dengan tujuan untuk mempromosikan naskah novel ini ke penerbit-penerbit novel yang berminat menerbitkan novel ini dan juga kepada produser-produser film yang serius berminat menjadikan naskah novel sebagai skenario film. Naskah novel ini terdiri dari sembilan bab.

Judul Naskah RASIAN dengan Kategori Novel (Fiksi Ilmiah) dikarang, diketik, dan disunting oleh Ahlul Hukmi pada Juli 2016. Disunting kembali pada Agustus 2017, Maret 2019, dan Agustus 2019. Jumlah Halaman 130 (A4) dan 212 (A5), Jumlah kata 31,080. Jumlah paragraf 1,363. Pada awalnya ada 13 bab dalam naskah novel ini, namun setelah proses pembacaan dan penyuntingan berulang, akhirnya menjadi 9 bab.

Kendatipun ada satu puisi dan dua sajak dalam naskah novel ini, novel ini tidak merupakan novel pertama yang berisikan puisi, tidak juga novel puitis pertama dalam sejarah sastra. Dalam sejarah sastra, ada novel klasik dalam bahasa daerah yang sangat puitis dan berisikan banyak pantun. Naskah novel ini dikarang oleh seorang penyair yang gemar membaca dan menulis puisi.

Pos_el                         :   hukmi99@gmail.com
Facebook                    :   Ahlul Hukmi
Instagram                     :  @hukmi99
Nomor Ponsel             :   +6282284698141

Penyokong dana, penerbit-penerbit novel dan produser-produser film yang serius berminat menerbitkan novel Rasian dan membuat film Rasian, silahkan hubungi diriku melalui pos_el atau ponsel.

Sokongan dana yang dibutuhkan untuk penerbitan perdana naskah novel ini adalah sejumlah Seratus Juta Rupiah, sedangkan harga naskah novel yang ditawarkan kepada produser film untuk dijadikan naskah film adalah sejumlah Satu Miliar Rupiah.

Semoga ada yang berminat menyokong penerbitan naskah novel ini dan menjadikannya sebagai naskah film.

Terima kasih.

                 

                                                 

                    ★
Lanjutkan Membaca >>

09/11/19

Puisi Penyair Kepada Kekasihnya

Makna Cinta

Jangan tatap mataku
karena 'kan terbias rinduku padamu
dari dalam dadaku

'Ku ingin dekat denganmu dan mencintaimu
dalam kejujuran dan kesetiaan
untuk mendapatkan ridha-Nya

Saat 'ku berdiri antara rasa dan logika
'Ku ingin seimbangkan keduanya
agar rasa dalam dada tak buatku jauh dari-Nya

'Ku sadar ini bukanlah Ayat-Ayat Cinta
yang jadi fenomena dan buat penikmatnya
meneteskan air mata

Ini hanyalah ungkapan rasa yang 'ku rangkai
agar terasa indah dibaca dan bermakna
dalam relung-relung jiwa

'Ku sadar tak ada cinta yang abadi di antara manusia
jika hanya bermula karena nafsu semata
cinta yang abadi hanyalah milik-Nya

'Ku ingin cintaku adalah cinta yang diridhai-Nya
karena tanpa ridha-Nya maka hidup menjadi sia-sia selamanya

Cinta adalah anugerah-Nya
karena dengan cinta bisa buat manusia
saling menyayangi dalam kekurangan dan kelebihannya

Cinta adalah ibadah pada-Nya
jika manusia saling mencintai
karena mengharapkan ridha-Nya

Cinta adalah ujian-Nya
untuk manusia agar lebih sabar,
selalu sabar, tawakal, dan ridha
terhadap segala ketentuan-Nya

Dumai, 04 September 2007




Lanjutkan Membaca >>

28/10/19

Puisi Ahlul Hukmi

SUMPAL PEMUDA

Mereka disumpal dengan narkoba.
Mereka disumpal dengan miras, judi, dan prostitusi.
Mereka disumpal dengan hasil korupsi.

28 Oktober 2019
Lanjutkan Membaca >>

02/06/19

Puisi Ahlul Hukmi

Puisi adalah puisi

Puisi adalah fiksi.

Puisi adalah pernyataan berdasarkan pikiran.
Puisi adalah pernyataan berdasarkan khayalan.
Berkhayal menggunakan pikiran.
Khayalan adalah pikiran.

Puisi adalah emosi.

Puisi adalah pernyataan berdasarkan perasaan.
Puisi adalah pernyataan berdasarkan emosi.
Emosi menggunakan rasa.
Emosi adalah perasaan.

Puisi adalah fakta.

Puisi adalah pernyataan berdasarkan kenyataan.
Puisi adalah pernyataan berdasarkan fakta.
Kenyataan menggunakan wujud.
Fakta adalah wujud.

Tanya adalah nyata.

Puisi adalah puisi.

01/02/2019
Lanjutkan Membaca >>

Puisi Ahlul Hukmi

CUKUPLAH HIDUP DENGAN KECUKUPAN DARINYA

Yang hidup mewah, enak, dan berkecukupan
di zaman feodal imperial selama ribuan tahun,
banyak memuji dan mendukung feodal imperial.

Yang hidup mewah, enak, dan berkecukupan
di zaman penjajahan selama 354 tahun,
banyak memuji dan mendukung penjajah.

Yang hidup mewah, enak, dan berkecukupan
di zaman orde lama selama 20 tahun,
banyak memuji dan mendukung orde lama.

Yang hidup mewah, enak, dan berkecukupan
di zaman orde baru selama 32 tahun,
banyak memuji dan mendukung orde baru.

Yang hidup mewah, enak, dan berkecukupan
di zaman orde reformasi selama 20 tahun,
banyak memuji dan mendukung orde reformasi.

Yang merasa hidup cukup dalam keridhaanNya selama-lamanya, 
cukuplah banyak-banyak memujiNya.

22 Mei 2019
Lanjutkan Membaca >>